Breaking News

Tradisi "Methil" di Desa Karangmalang



Kebudayaan adalah suatu serangkaian kegiatan yang dilakukan manusia sebagai bentuk hasil cipta, rasa, dan karsa. Kebudayaan lahir karena kemampuan akal budi manusia yang mampu mengembangkan sistem-sistem tindakan untuk mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Jadi, kebudayaan dan manusia tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Karena kebudayaan itu lahir dari pola perilaku manusia itu sendiri yang berguna bagi pemenuhan kebutuhan hidupnya.

Pulau Jawa merupakan salah satu daerah yang memiliki banyak sekali kebudayaan lokal. Kebudayaan sering kali dikaitkan dengan istilah tradisi atau adat istiadat. Hubungan keduanya adalah tradisi merupakan bagian dari suatu 2 kebudayaan. Dalam suatu tradisi sering kali kita jumpai mitos-mitos yang masih dipercaya sebagian orang terutama mereka yang tinggal di daerah pedesaan.

Modernisasi merupakan suatu ancaman sekaligus penolong bagi manusia. Ancaman yang ada bisa berupa perubahan secara besar-besaran terhadap pola perilaku masyarakat yang sekarang ini mulai melunturkan jati diri bangsa sedangkan dampak positifnya adalah membantu masyarakat dalam kehidupan sehari-hari karena majunya perkembangan di segala bidang. Ancaman yang diberikan oleh modernisasi ini pun berdampak kepada kebudayaan-kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Dampak yang ada bisa tejadi karena adanya proses akulturasi.

Salah satu daerah yang ada di provinsi Jawa Timur, yaitu desa Karang Malang, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi hingga sampai saat ini masih mempertahankan ataupun menjalankan tradisi “Methil”. Tradisi tersebut berupa upacara bancaan yang dilakukan oleh mereka yang memiliki sawah. Pelaksanaan tradisi tersebut dilakukan oleh mereka saat menjelang panen raya
padi.

Proses pelaksanaan tradisi “methil” adalah suatu proses dimana warga melakukan beberapa tahap sebelum mereka melaksanakan panen raya padi.

Berikut ini, beberapa proses atau tahapan yang harus dilakukan oleh warga desa Karangmalang. Proses atau tahapan pertama yang dilakukan oleh warga masyarakat desa Karangmalang yang melaksanakan tradisi tersebut di sawah adalah menentukan hari baik untuk melaksanakan tradisi tersebut, proses kedua yaitu memberi batas lokasi sawah yang akan dipethil, ketiga yaitu menyiapkan sesaji, dan yang terakhir yaitu pelaksanaan “methil” itu sendiri. Sedangkan mereka yang memilih melaksanakan tradisi “methil” di rumah proses pelaksanaannya lebih simpel yaitu hanya dengan menentukan hari baik dan menyiapkan makanan saat bancaan.

Dalam tradisi “methil” yang sangat tradisional tersebut pastilah didalamnya mengandung nilai. Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti di desa Karangmalang maka dapat disimpulkan bahwa dalam tradisi “methil” tersebut mengandung 4 unsur nilai, yaitu nilai historis atau sejarah, nilai religi, nilai sosial, dan nilai budaya.

Sumber Artikel : http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sosant/article/view/2115

No comments